Janji Tiga Menteri mengenai STOP ekspor rotan
Kemarin 28 Oktober 2011, bertepatan dengan hari sumpah pemuda. Cirebon mendapatkan harapan besar dari tiga menteri Kabinet 2 Indonesia Bersatu jajaran kabinet yang baru di bentuk dari reshuffle kemarin. Dan Tiga Menteri tersebut yakni Menteri Perdagangan Gita Wiyarwan, Menteri perindustrian MS Hidayat, dan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Kunjungan tersebut mengenai dihentikannya ekspor bahan baku rotan yang selama ini berjalan dan sudah banyak membuat gulung tikar pelaku usaha dan pengrajin rotan, khususnya di wilayah kabupaten cirebon yang notabene adalah sentra wilayah masarakat rotan dan meubel.  Karena sempat sebelumnya masarakat rotan cirebon, baik pelaku usaha maupun pengrajin mengadakan aksi demo di depan Gedung Kementrian Perdagangan pada waktu yang lalu di Jakarta. Itulah alasan Tiga menteri hadir untuk menyingkapi dan melihat langsung masalah yang terjadi selama kurun waktu kurang lebih enam tahun sejak di berlakukannya SK No. 36/M-DAG/8/2009, yang sudah banyak membuat sengsara masarakat rotan cirebon maupun pelaku usaha di kabupaten cirebon "Ambruk" 
Gita Wiryawan mengatakan selaku menteri perindustrian permasalahan rotan terletak pada kebutuhan bahan baku untuk dalam negri di nilai tidak mencukupi, di lihat kuantitas maupun kualitas bahan bakunya tidak memenuhi standar kualitas ekspor. Sedangkan hampir 60.000-65.000 ton per tahun dalam negeri cirebon khususnya membutuhkan bahan baku rotan setiap tahunya sebanyak itu. Pada akhirnya Tiga menteri menyetujui di hentikannya ekspor bahan baku, dan mendag meminta dukungan dari semua pihak, terutama para pengusaha yang terkait daya saing dan kualitas kerajinan dalam negri untuk tetap optimis membangun sektor bisnis tetap berjalan. Sedangkan pada saat itu juga ada salah satu perwakilan dari petani dan pengepul rotan kalimantan, mengakui bahwasanya jikalau SK berlakunya ekspor bahan baku di hentikan akan berdampak pada menumpuknya stok bahan baku dan kesenjangan ekonomi di wilayah kalimantan khususnya sentra penghasil rotan asalan. "harga penawaran kami tidak bisa masuk cirebon, cina berikan kami harga Rp.20.000 per kg nya, sedangkan cirebon hanya Rp. 6000 per kg nya. dan itu membuat masarakat petani dan pengepul rotan daerah kami tidak memiliki apa-apa dari keuntungan jual beli tersebut" ujarnya. Terlihat ketua ASMINDO Ambar Tjahyono memberikan pengertian dalam kebutuhan rotan pada saat ini, dan berupaya bersama untuk mencari solusi yang ada. 
Dengan adanya perihal ini, Mendag juga menegaskan bahwa pihaknya bersama kementrian perindustrian dan kementrian kehutanan berjanji akan menghidupkan industri rotan di sentra penghasil rotan nya juga, seperti kalimantan dan sulawesi untuk tetap bisa menjual hasil rotan mereka tetap berjalan. Dan berharap hasil regulasi ketetapan besok akan membuat rotan kita kembali bangun dari keterpurukan dan kembali meramaikan persaingan pasar dunia. sekaligus menepis anggapan dari Kepala Bidang Industri dan Perdagangan kabupaten cirebon Supardi, yang katanya cirebon belum bisa bersaing di pasar dunia dan poduknya monoton (kompas, jumat 28oktober 2011), akan kami buktikan sebaliknya. Bangun Negriku, bangun bangsaku dan bangun kreativitas sumber daya yang ada.
Posted on October 28, 2011 | 10 comments
Komentar
saefudin jafar (October 29, 2011 10:47) bagus nih, mudah2an janjinya bener. Selagi belum ada hitam diatas putihnya, jgn cepat percaya. tunggu buktinya saja. | H.SOLIKHIN (October 31, 2011 07:56) Itu sebenarnya bukan kemenagan orang Cirebon dan Sentra industri mebel rotan lainya , tetapi kemenagan dari orang yang mau berfikir kreatif,mau memajukan rakyatnya dengan cara cerdas dan punya harga diri sebagai bangsa.
anda bayangkan banyak penduduk negri ini jadi bodoh kalau rotan itu bisa dijadikan barang apa ? karena yang mereka tahu kalau rotan ini adalah bahan yang laku dijual ke luar negri , tetapi tidak tahu kalau
barang yang namanya rotan bisa dibuat mebel mewah di negri sebrang sana.
Sementara tahun 1980 an di negri rotan bisa masuk ke Istana negara, rumah -rumah mentri, sekarang kita lupa bahwa kita punya kekayaan yang melimpah namanya rotan. Itu gara gara terjadi pembodohan sistematis
dengan mengeksport bahan baku rotan.
Kita generasi sekarang sepertinya ketionggalan sama pemikiran yang katanya Koruptor Besar "PAK BOB HASAN",
Yang sebenarnya juga telah terbukti membuat hiruk -pikuk industri rotan jadi tersohor dimanca negara. | H.SOLIKHIN (October 31, 2011 10:57) Saya minta info jenis rotan apa yang rp.20.000 &6000?.......yang jelas
katanya punya stock ratusan ton , dimana ?
minggu kemarin saya ke KALBAR hanya dapat 6 ton, mari kita bangun negri ini dengan niat yang baik , Mari kita berfikir agar bagaimana disetiap sentra bahan baku juga dibangun sentra industrinya , lihat tuh di katingan (kalteng).tidak melulu cerita eksport bahan baku ? , mari kita berfikir kedepan untuk mengharumkan NKRI dengan furniture rotanya. | buddy (October 31, 2011 07:39) saya pengepul rotan di KALBAR, harga rotan rp.900/kgs - rp.2000/kgs , jadi kalau dijual rp.20.000
artinya BOSS nipu saya, menurut saya kalau Boss Cinta negri , ini dijual RP.6000 , itu sudah bikin Boss Gendut. Lagian BOSS seperti bukan orang Sekolahan , sebutin jenis rotanya doong.
Demi negri ini , mari itung -itungan boss! jangan asal ngomong, kasihan saudara kita di jawa | H.SOLIKHIN (October 31, 2011 08:27) Apa yang dirisaukan untuk menutup bahan baku rotan, kita hendaknya belajar dari pengalaman sejak tahun 1986, ketika kran rotan di stop. saat itu industri belum siap, lama - lama menyesuaikan dan berkembang.
saat itu supply and demand cukup bagus , tetapi lama kelamaan seiring berjalanya waktu, pergantian pemerintahan, orang bahan baku lupa dan timbul keserakahan , ketika di stop export bahan baku masih berusaha
rotan diselundupkan ketika di kran eksport bahan baku di buka , penebangan hutan habis -habisan , dan ngomongnya kelebihan produksi, saya jadi tidak mengerti logika apa yang di pakai, karena menurut saya yang ada adalah keserakahan.
keluarga saya sudah memungut rotan sejak tahun 1920 sampai sekarang, secara tradisional , ketika ditutup kran eksport bahan baku keluarga kami juga terus mengambil rotan secara tradisional, kami juga menyaksikan di wilayah eksplorasi rotan di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi , kalau diambil secara tradisional akan balance dengan kebutuhan industri dalam negri , setelah kran eksport bahan baku rotan
dibuka kembali , mereka mengeksplorasi seperti kesetanan , pakai alat berat dst -dst, jadi mereka belum puas kalau hutanya belum gundul dan pualunya belum tenggelam.
mereka juga ngomong pengangguran akan banyak untuk para pemungut rotan, itu hanya dramatisasi keadaan.
kami tahu betul situasi para pemungut rotan , kami juga punya banyak pemungut rotan di sumatra, kalimantan dan sulawesi.
Para pemungut rotan itu orang yang sederhana , dan kalau di kasih tahu kebutuhan rotan berkurang , satu bulan sebelumnya, mereka akan menyesuaikan pekerjaanya dengan komoditi lain,
yang kami rasakan dulu ketika kami hanya memungut rotan dijual ke dalam negri , hidup kami biasa -biasa saja , ketika mulai tumbuh industri mebel eksport , jualan bahan baku kami jadi ramai, tetangga kami bisa bekerja siang malam.
dulu dicirebon ada Terminal Bahan Baku rotan , jualanya pakai PPN 10%, tetap daganganya laku , negara juga diuntungkan , pembayaranya cash.
jadi mari kita gunakan nurani, harga diri bangsa, jangan fikir untung rugi melulu, dan slogan kosong
untuk kepentingan segelintir orang. | kerajinan tembaga (February 09, 2012 18:53) semoga aja janjinya ditepati. jangan janji melulu tp tidak ditepati.. | Saefudin di Solo (November 25, 2011 06:46) pak ali, apa ngga malu impor barang yang bahan bakunya dari Indonesia juga? dan orang indonesia bisa membuatnya juga. Kenapa ngga industri rotan di kalimantan/sulawesi/sumatra saja yang ditumbuhkan daripada menghidupi pengrajin di China? Coba banyangkan banyaknya tenaga kerja, masa lebih mementingkan tenaga kerja dari negara lain?
Hasil produk dari Indonesia juga bagus-bagus pak, jangan meremehkan produk sendiri. Oleh karena itu ya pak, lebih suka ekspor bahan baku?
Atau memang orang sana malas-malas?
Di Solo sudah hampir punah, karena bahan baku saja tidak ada. Apa lebih baik impor dari China?
Sekalian saja eksopr kayu log, kan pengrajinnya hebat sana, bodoh sekali dong pengrajin2 jepara/bali.
Ngapain memproduksi sendiri, lebih baik buatan China.
Nasionalisme nya mana bung? Tumbuhkan industrinya di sana, itu jawabannya. bukan jadi ekspor barang mentah. | m.ali (November 24, 2011 05:57) kalau ekspor rotan ditutup sama saja monopoli, dan bisa dikatakan petani di daerah penghasil yg menanggung rugi, saya adalah pengumpul rotan di sampit, terus terang kalau jual ke cirebon yg di beli cuma soft, ukuran kecil dan besar, sedangkan kobo tidak di beli, padahal soft adalah jenis yg paling jelek dari rotan taman, mana mungkin industri dalam negeri bisa bersaing dipasar internasional dng bahan baku yg jelek, alasan pengrajin beli soft adalah berat jenis barang tersebut ringan, maka jumlah satuan lebih banyak, padahal kualitas soft paling jelek, belum lagi cara pembayaran yang ada di cirebon yg kebiasaan ngutang tanpa jelas kapan pembayarannya, dengan harga yg lebih murah, dan jenis yg paling jelek. kalau jenis kobo jarang ada orang cirebon yang mau beli,
bahan baku dari kalimantan diekspor ke china, diproses disana, kemudian di impor lagi keindo melalui surabaya, kemudian dipasarkan di bali, harganya bisa lebih murah dari produk cirebon,, padahal bahan yg dikirim ke china membayar bea keluar, dan diimpor keindonesia membayar bea masuk, tapi tetap lebih murah dan hasilnya jauh lebih baik dari cirebon,, | saefudin di Solo (November 25, 2011 06:54) Kalau masalah teknis pembayaran, dagang comro juga dilarang, ada yang darmaji (dahar lima ngaku hiji).
Masalah teknis itu bisa dimusyawarahkan, bukan jadi alasan penting.
Mengapa tidak mau jual barang jadi? Kalau hutan rotan sudah habis, trus banjir, baru nyesel deh, tapi sudah terlambat.
Hidup pengrajin China.
Kalau rotan masih boleh diekspor, kayu juga dong boleh diekspor dalam bentuk log, kan sama saja.
Biar tidak ada industri mebel di Indonesia.
Ngapain produksi sendiri, tidak perlu peduli tenaga kerja, lebih penting murah. Biar org Indonesia jadi teroris saja seperti di Cirebon dan di Solo. | Tomy Gutomo (December 03, 2011 12:49) saudaraku di kalimantan. alangkah baiknya jika pengusaha bahan baku di daerah mulai mengeksport barang jadi seperti cirebon. kami dari cirebon sangat berharap sahabatku di kalimantan bukan sekedar menjadi pengusaha pengepul rotan saja tetapi bisa berkembang menjadi pengekspor barang jadi untuk rattan furniture.
sekarang ini sedang dilakukan pemasangan mesin pengolahan rotan di katingan kalimantan dan akan dilanjutkan dengan beberapa pelatihan teknik membuat kerajinan rotan dan teknik prosesnya. juga beberapa pelatihan desain untuk wilayah anda sahabatku di kalimantan.
pengekspor rotan mentah sebagai warga negara indonesia aspal. padahal hatinya masih berwarga negara cina. masa beli Rp 2000/kg + susut 100%+operasional,ongkos kirim jawa dan profit(150%)=....?
kita ekspor barang jadi dari kalimantan saja. saya latih, saya ajarin desainnya dan saya pasarkan keluar negeri. sahabatku dikalimantan mau? |
Directory Listing
ACLScertification.com is the leading online acls certification and recertification provider in the world. Simply call 1-800-448-2078 to register today for your acls renewal or certification. http://www.aclscertification.com We sell furniture agriculture http://www.mustikafurnitureagriculture.com We korean style fashion clothes, baju, pakaian and accessories http://www.cleocat-fashion.com uAUyzb tailumdfhoqc, [url=http://wywxgklwccpf.com/]wywxgklwccpf[/url], [link=http://muiujslyosmq.com/]muiujslyosmq[/link], http://dgkvbvxtdeas.com/ http://dwldnkdcvgpa.com/ London Autobody Center can handle any drivable repair while our state of the art, mobile service vehicles bring the latest paint and collision repair solutions right to your http://www.londonautobody.ca
Motivation Words
You Can If You Think You Can
|
Customer Support
 10 visitors online
|