![]() |
Pemerintah mempertimbangkan ekspor kayu gelondonganPemerintah tidak boleh tergoda untuk membuka kembali keran ekspor kayu gelondongan yang ditutup sejak 2001. Langkah ini berbahaya karena akan membuat penyelundupan kayu ke luar negeri merajalela lagi. Dampaknya bukan hanya mematikan industri pengolahan kayu, tapi juga mempercepat penggundulan hutan. Usulan mengekspor lagi kayu itu disampaikan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan pada peringatan Hari Keanekaragaman Hayati baru-baru ini. Dia beralasan, saat ini pasokan gelondongan dari hutan rakyat melimpah dengan harga yang relatif murah. Jika diekspor, nilai ekonomi kayu-kayu itu akan langsung melonjak. Pemilik dan pekerja hutan rakyat pun akan lebih sejahtera. Sekilas alasan Menteri Zulkifli masuk akal. Namun kebijakan itu bakal memunculkan masalah baru. Dibukanya ekspor kayu gelondongan bakal mengurangi pasokan bahan baku untuk industri pengolahan kayu dalam negeri, seperti pernah terjadi ketika ekspor kayu bulat diperbolehkan melalui kesepakatan Indonesia dengan Dana Moneter Internasional (IMF) pada 1998. Kala itu banyak kayu log mengalir keluar meskipun ekspor kayu sudah dibatasi dengan pajak yang tinggi, yang sempat mencapai 40 persen. Kebijakan seperti itu akan membuat hutan cepat gundul. Sebab, minimnya pasokan kayu di dalam negeri akan mendorong industri kayu olahan mencari bahan baku dari jalur ilegal. Penebangan liar pun marak dan hutan lebih cepat hancur. Apalagi, bersamaan dengan ekspor kayu secara resmi, biasanya akan terjadi penyelundupan kayu ke luar negeri. Seperti yang terjadi di masa lalu, pemerintah pusat maupun daerah akan kesulitan memberantas kejahatan ini jika ekspor kayu gelondongan dibuka. Dalam jangka panjang, ekspor kayu log juga akan membunuh industri pengolahan kayu nasional. Ini bukan hanya karena pasokannya yang berkurang. Kebijakan itu juga membuat industri kita harus bersaing dengan produk olahan sejenis dari negara lain yang bahan bakunya berasal dari hutan Indonesia. Dalam persaingan tersebut, industri kayu Indonesia bisa kalah. Nasib tragis itu sudah terjadi pada industri rotan. Sejak era 1980-an hingga 2005, Indonesia merajai pasar produk rotan dunia. Lalu, pada 2005, pemerintah membuka ekspor rotan asalan atau setengah jadi. Kebijakan ini ternyata membangkitkan industri rotan di negara-negara yang tidak memiliki bahan baku, seperti Cina. Kini Negeri Tirai Bambu menguasai pasar dunia. Sementara itu, industri rotan Indonesia hancur: 43 persen pabrik rotan gulung tikar, 40 persen lainnya sekarat, dan cuma 17 persen yang mampu bertahan. Pengalaman buruk itu tak boleh terulang pada industri kayu. Pemerintah harus tetap mendorong ekspor kayu olahan, yang menurut Badan Pusat Statistik sekarang sedang tumbuh. Angka permintaan kayu lapis Indonesia oleh pasar internasional diperkirakan naik 20 persen. Pertumbuhan industri kayu jelas akan menyerap pula kayu log dari hutan rakyat sekaligus membuat harganya meningkat. Asumsi ini semakin menguatkan pendapat bahwa mengekspor kayu gelondongan akan menimbulkan lebih banyak mudarat ketimbang manfaat. http://tempointeraktif.com/hg/opiniKT/2010/05/25/krn.20100525.201474.id.html
Komentar
Tulis KomentarDirectory Listingacls online renewal (12/20/2011)ACLScertification.com is the leading online acls certification and recertification provider in the world. Simply call 1-800-448-2078 to register today for your acls renewal or certification. A QA Furniture/QA Furniture Com (12/08/2011)About Us/A QA Furniture/www.qafurniture.com. Welcome to our Website: www.qafurniture.com. We are Quality Furniture Manufacturer and Exporter since 1990 ... Airport limo Toronto (12/08/2011)Toronto Airport transportation is one of the best Airport Taxi Toronto service. Airport limo Toronto is first class transportation service from Toronto & Pearson. Dubai tour Package (12/08/2011)Dubai tour Package - Discover the beauty of Dubai with Dubai tour package with lot of adventure liu (12/08/2011)Hitop Motivation Words"Apabila kita takut gagal, itu berarti kita telah membatasi kemampuan kita." |
SponsorLatest Blog EntriesRecent Responses |