Reinhard Nainggolan dan fakta ekspor mebel rotan
Setelah membaca koran Kompas Selasa, 18 Maret 2008 hal. 21 dengan judul “Industri Rotan: Indonesia Punya Bahan Baku, Eropa Punya Nama”. Saya merasa harus menulis pelurusan tentang industri rotan sesungguhnya dengan menggunakan data dari BPS (Badan Pusat Statistik).
Mungkin sdr. Reinhard Nainggolan bukan penulis yang berdasarkan fakta yang terjadi, hanya bisa membela pemerintah membabi buta tanpa ada data sebenarnya. Yang isinya membenarkan kebijakan pemerintah. Sejak tahun 1986, pemerintahan Soeharto melarang ekspor rotan bahan baku, harus diekspor dalam bentuk barang jadi. Kemudian pada tahun 2005, pemerintahan SBY-JK, membuat keputusan tentang ekspor bahan baku rotan. Reinhard Nainggolan menulis, “sejak pertengahan 1990-an industri rotan terus merosot, terutama karena kualitas yang rendah. Kondisi itu diperparah dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/Kep/6/2005 yang membuka kembali keran ekspor rotan.” Padahal menurut data BPS dengan HS Code 940150100 Seats of rattan dan HS Code 940150900 Other seats cane, osier, bamboos menunjukkan data sbb: 1997 US$101,653,198 1998 US$30,554,542 1999 US$180,606,804 2000 US$187,616,984 2001 US$172,915,554 2002 US$182,760,438 2003 US$200,466,142 2004 US$205,668,889 2005 US$191,008,268 2006 US$159,314,133 (jan-okt)
Dari data di atas, terlihat jelas bahwa ekspor furniture dari rotan meningkat terus, hanya pada tahun 1998 anjlok karena krisis moneter dan keamanan yang kurang baik di Indonesia. Jadi informasi dari sdr Reinhard di koran Kompas, membuat opini publik untuk membuat masyarakat Indonesia membela pemerintah bahwa keputusan ekspor bahan baku rotan itu benar. Mudah-mudahan sdr Reinhard bisa merevisi tulisannya yang menyakiti eksportir furniture dari rotan yang sudah sekarat, apalagi dengan tulisan yang isinya bahwa sebelum ada SK Mendag juga ekspornya sudah turun, padahal kenyataannya tidak. Dari data terlihat jelas bahwa penurunan ekspor mebel furniture sejak tahun 2005, sejak diberlakukannya ekspor bahan baku. Ada lagi tulisannya yang menyatakan bahwa “Kebijakan pemerintah, membuka atau menutup ekspor bahan baku rotan, tidak bisa menyelamatkan industri rotan kita, baik industri setengah jadi maupun mebel rotan, dua-duanya sekarat.” Tulisan itu menambah sakit hati eksportir-eksportir furniture rotan. Dari data BPS terlihat jelas bahwa penurunan ekspor furniture rotan sejak adanya SK Mendag tahun 2005. Saya yakin sekali tahun 2007 data dari BPS pasti lebih rendah lagi. Yang sekarat itu sekarang adalah eksportir mebel rotan dengan karyawannya. Dan saya ungkapkan sekali lagi bahwa penurunan ekspor mebel rotan bukan sejak 1990-an akibat kualitas barang Indonesia. Tiap eksportir memiliki segmen yang berbeda-beda, ada yang pasar menengah atas, ada juga pasar menengah ke bawah. Jadi bukan karena kualitas rendah produk Indonesia yang membuat ekspor mebel rotan menurun tetapi karena kebijakan pemerintah tahun 2005, pada saat pemerintahan SBY-JK. Oleh karena itu, marilah bergabung di komunitas wood furniture di www.woodfurniture.net agar bisa mendapatkan buyer-buyer dari luar negeri.
Posted by Tonton Taufik on March 18, 2008 | 17 comments
Komentar
Fauzan Adhi (March 18, 2008 19:43) Akan lebih bermanfaat bila post feedback ini dikirimkan ke Surat Pembaca Kompas, agar masyarakat mengetahui ralita yang sebenarnya.
"Yang menguasai media lah yang akhirnya akan menang"
Salam, Fauzan | tonton (March 18, 2008 20:16) Sepertinya pemerintah melancarkan perang melawan fakta melalui media TV dan koran.Pemerintah ingin terjadi opini bahwa kebijakannya benar. | Maria Ernawaty (March 18, 2008 20:38) saya setuju sekali dngan usul sdr. Fauzan untuk memuat post feedback ke kompas, bila perlu minta dukungan asmindo & amkri.
rupanya pemerintah sedang melancarkan kebohongan publik melalui sdr. Reinhard.
Eksportir jangan diam aja dong...? | Asep Nana (March 18, 2008 22:27) Peran penting para exporter dan instansi terkait seperti Asmindo,Amkri dan dukungan para masyarakat pro Nasionalis sangat di harapkan opini exsistnya sehingga terbentuk opini tangguh untuk menjegal trik pemerintah ini. | susi (March 18, 2008 22:35) Seharusnya sebelum memuat tulisan lihat data yang ada, jangan asal menulis, apalagi banyak fakta yang mendukung. Ini kan bukan menulis cerpen yang imaginatif. | Yani (March 18, 2008 23:43) Setuju dengan usulan Sdr. Fauzan dan rekan untuk memuat tulisan bantahan terhadap wacana miring yg disodorkan oleh Sdr. Reinhard ke media massa.
Pemerintah seakan tutup mata dan telinga dengan segala penderitaan yang dialami warganya khususnya mengenai imbas kebijakan export bahan baku rotan terhadap kelangsungan hidup perusahaan & karyawan industri furnitur rotan di Cirebon. Hal ini terbukti dengan kunjungan 'wisata' Marie Pangestu ke Cirebon pada saat 'temu wicara' dengan kami. Hanya sebuah dagelan. Mata & telinga mereka seakan tidak berfungsi. Sangat menyedihkan! | Vieo Hariadi (March 19, 2008 04:29) Kelihatannya memang pemerintah buta dan tuli, Ada lagi tulisannya yang menyatakan bahwa “Kebijakan pemerintah, membuka atau menutup ekspor bahan baku rotan, tidak bisa menyelamatkan industri rotan kita, baik industri setengah jadi maupun mebel rotan, pernyataan ini membuat geram dan membuat pesimis eksportir eksportir lainya untuk dapat memajukan salah satu komoditi indonesia selama ini. Mungkin saya sependapat dengan sdr. Fauzan adhi, untuk mempublikasikan wacana sdr.Reinhard ke media, biar masarakat sendiri yang menelaah dan menilai. Hidup eksportir maju terus pantang mundur...!!! | Budi Wibowo (March 24, 2008 06:33) Saya sangat setuju dengan pendapat sdr Fauzan. Karena faktanya kami sebagai eksportir mebel rotan saat ini sudah mengantongi order sampai akhir Oktober 2008 rata-rata 40 - 60 container per bulan, tapi kenyataannya saat ini kami dililit dilema bahwa kami mengalami kekurangan pasokan bahan baku rotan padahal Indonesia adalah salah satu produsen export terbesar di dunia. Tapi mengapa kebutuhan di dalam negeri sendiri malah tidak terpenuhi. kalau sampai tidak ada bahan baku rotan berarti kami tidak bisa berproduksi, lalu bagaimana dengan nasib 1.500 karyawan dan sekitar 20 sub contractor kami? Jadi mana mungkin sdr. Reinhard dengan pernyataan yang tidak bertanggung jawab dan tidak melihat fakta sebenarnya di lapangan bisa dengan seenaknya memaparkan informasi seperti itu. Apakah ada indikasi untuk menggelembungkan kantong pribadi atau kelompok tertentu dengan mengorbankan kepentingan masyarakat luas??? | yoga (April 13, 2008 22:51) Saya setuju banget atas pelurusan masalah rotan, cuma saya bingung kalo mau cari data statistik rotan baik ekspor impor per negara per tahun secara real dimana ya? Ada yg bisa bantu? Thanks sbelumnya | Tonton (April 13, 2008 23:15) Coba saja di BPS, walaupun tidak independen lagi. Kalau mau pasti di Deperindag pusat, cari berdasarkan HS Code. | Lisna (May 30, 2008 03:41) Hari gene masih pake data BPS?????? | Putra (August 27, 2008 04:08) dari informasi kompas yang dimuat, sepertinya pemerintah tidak berfikir strategis karena potensi pengembangan industri rotan sendiri akan disupport kemunduranya melalui perizinan ekspor bahan baku. Sehingga yang tercipta adalah canibalism local product oleh China dan Vietnam, karena mereka memiliki cost of production yang juga kompetitif. | REINHARD NAINGGOLAN (September 09, 2008 12:59) Kulu Nuwun. Saya Reinhard Nainggolan, Wartawan yang nulis: Industri Rotan "INDONESIA PUNYA BAHAN BAKU, EROPA PUNYA NAMA" (KOMPAS-Selasa,18 Maret 2008, Hal:21). Saya baru aja (Selasa, 9 September 2008) membaca komentar2 di blog ini yang mengkritik tulisan tsb. Ada beberapa hal yang perlu saya klarifikasi:
PERTAMA, Dalam menyusun tulisan itu, saya sama sekali tidak berada di pihak pemerintah. Melalui tulisan itu saya bahkan mengkritik pemerintah yang tidak memiliki kebijakan jelas tentang industri rotan Indonesia, mulai dari hulu sampai hilir. Saya ragu, saudara-saudara yang mengkritik telah membaca tulisan itu dari awal sampai akhir sehingga tidak bisa menangkap inti tulisan tersebut, misalnya yang “Menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah soal rotan Indonesia tidak pernah jelas, sebentar membuka keran ekspor, sebentar menutup”. Kebijakan itu membingungkan banyak pihak, mulai dari petani rotan, eksportir rotan setengah jadi, sampai perajin/eksportir mebel rotan. Yang diuntungkan dari ketidakjelasan kebijakan itu justru negara-negara lain yang bisa mengambil manfaat ekonomis dari rotan Indonesia. Kalau saudara belum membaca tulisan itu, bisa dibaca di: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/03/18/00513549. Lebih baik lagi bila dilengkapi dengan dua tulisan saya sebelumnya, “Rotan Diambang Kehancuran, Tata Niaga Akan Dibahas Kembali” dan “Industri Rotan, Petani Sudah Tidak Tertarik Lagi (baca:mencari rotan)” (Dua tulisan terakhir ini silahkan di search di www.google.co.id).
KEDUA, semua data yang saya paparkan dalam tulisan itu sesuai dengan data Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) dan Asosiasi Pengusaha Rotan Indonesia (APRI) yang disampaikan oleh masing-masing Ketua Umum-nya, Hatta Sinatra dan Sabar Nagarimba. Saya tidak tahu saudara masuk ke dalam asosiasi yang mana atau justru tidak masuk ke kedua-duanya? Kalau saudara menjadi anggota di salah satu asosiasi itu, silahkan tanya ketua umumnya soal akurasi dan updating data. Sampai saat ini, saya tidak pernah menerima sanggahan/protes dari AMKRI dan APRI atas data yang saya paparkan. Silahkan juga tanya ke Bapak Hatta Sinatra kenapa menilai kualitas mebel rotan Indonesia masih rendah, belum seperti produksi Finlandia, Spanyol, dan Polandia. Saya menaruh hormat kepada bapak Hatta Sinatra, yang juga pengusaha/eksportir mebel rotan yang cukup dikenal, mau mengakui kekurangan mutu produksinya, tentu untuk kemudian melakukan perbaikan-perbaikan. Jadi, dalam menyusun tulisan itu, jelas saya berdasarkan data dan tidak sedang menulis cerpen.
KETIGA, Sebagaimana wartawan lainnya, sebelum menulis tulisan soal rotan ini, saya harus turun ke lapangan. Saya bertemu dengan, mulai dari petani rotan, perajin rotan, pengusaha rotan, eksportir rotan, sampai Ketua Umum Asosiasi yang terkait dengan rotan.
KEEMPAT, khusus untuk saudara Budi Wibowo. Saya bertanggungjawab dengan apa yang saya tulis, antara lain dengan menanggapi kritikan dan unek-unek di blog ini serta memaparkan pendapat dan data dari orang2 yang berkompeten di industri rotan. Saya juga berharap saudara Budi Wibowo dapat mempertanggungjawabkan pernyataannya yang mengatakan “Apakah ada indikasi (Reinhard) untuk menggelembungkan kantong pribadi atau kelompok tertentu dengan mengorbankan kepentingan masyarakat luas???” Saya ingin bertanya sama saudara Budi Wibowo, apakah anda punya data awal atau data pendukung yang mengindikasikan saya menggelembungkan kantong pribadi terkait dengan tulisan rotan itu? Saya berani bertaruh apa saja, saudara sama sekali TIDAK PUNYA. Itu karena saya sama sekali, bukan untuk tulisan ini saja, tidak pernah menerima apapun dari narasumber.
Akhirnya, kalau saudara-saudara semua mempunyai unek-unek atau tidak dapat menerima pemberitaan di media silahkan menyampaikannya ke redaksi media bersangkutan.
Terima kasih untuk semua kritik yang membangun. Semoga kekayaan alam kita, termasuk rotan, dapat kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menghapus kemiskinan di bumi pertiwi. (Catatan: Pernyataan ini saya sampaikan atas nama pribadi, bukan atas anam institusi tempat saya bekerja) | Tonton (September 09, 2008 13:18) Terimakasih pak Reinhard, kami tunggu sekali respon tulisan ini beberapa bulan lalu. Pasti banyak yang baca ttg pembelaan bapak. Saat ini industri rotan furniture ekspor dalam keadaan bahaya sekali. Banyak yang bangkrut pengangguran dimana-mana. Dan mohon bantuan dari pihak pers untuk melihat secara jernih masalah yang terjadi akibat kebijakan pemerintah membolehkan ekspor bahan baku rotan. Kepada pemerintah: Buktikan jika kebijakan ini mensejahterakan rakyat! | Mr.keke (September 12, 2008 12:07) Mungkin berbicara dan mencari sumber data yang tepat akan lebih enak.
Saya sekalipun gak punya export rotan dan furniture, tetapi client dan kolega bergerak dalam bisnis itu, kenyataan memang tidak ada di tulisan itu.
Hehehhe... setidaknya tulisan berikutnya tenang penulusaran faktanya mungkin. | UJI (October 08, 2008 04:04) KAMI SEBAGAI PELAKU USAHA FURNITURE TERUTAMA ROTAN SANGAT GERAM SEKALI DENGAN KEBIJAKAN PEMERINTAH YANG TETAP KERAS KEPALA UNTUK MEMBUKA KERAN EXPORT BAHAN BAKU ROTAN KE NEGARA LAIN. SAYA TIDAK HABIS PIKIR DENGAN SIKAP PEMERINTAH, UNTUK APA MEREKA MEMFASILITASI SARANA UNTUK PAMERAN INTRNATIONAL FURNITURE JIKA DIDAPURNYA SENDIRI TIDAK MAMPU MENGATUR DAN MENGAYOMI PELAKU USAHA ITU SENDIRI. PEMERINTAH HARUSNYA MALU DENGAN KOMPETITOR KITA TERUTAMA VIETNAM DAN CHINA YANG PEMERINTAHNYA SUNGGUH-2 MENSUPORT EXPORT FURNITURE.
"KAWAN-KAWAN SEMUA SEPERJUANGAN SAYA CUMA BISA BERHARAP KITA TIDAK BOLEH MENYERAH DENGAN KEADAAN SEPERTI INI WALAU PEMERINTAH SAAT INI SEDANG BUTA DAN TULI DENGAN PENDERITAAN KITA. SUDAH SELAYAKNYA KITA PUNYA KEBANGGAN BAHWA KITA MASIH BISA MEMBANTU KAWAN-KAWAN KITA YANG MEMBUTUHAN KEBERADAAN KITA.KITA TIDAK BOLEH MENYERAH UNTUK MENYADARKAN PEMERINTAH DAN TENTUNYA BERDO'A...OK KAWAN-KAWAN RAPATKAN BARISAN DEMI JAYANYA NEGERI TERCINTA INI !!!!!! | Meynaz (November 17, 2008 01:11) Bagus apabila pemerintah melakukanya dengan sukarela tanpa menyusahkan semua masyarakat kecil yang tidak mampu lalu berantas semua para koruptor yang ingin memilikinya dengan foya-foya |
Directory Listing
mobile phones and accessories, GPS, laptop, digital frame, LCD etc. http://www.kintechsz.com QSA Living is a manufacturer of contemporary, modern and minimalist home furniture for bedroom, living room and dining room http://www.aqsaliving.com Navyroof.com (UK) Ltd. is an independent property investment company dedicated to delivering the best property investments in India which maximize return on investment for our clients. Invest in the Indian property boom today. http://www.navyroof.com We provide many kinds of wholesale candles with cheap price include pillar candles, votive candles, taper candles, and tea-light candles. http://www.candle-supplies.biz We provide broad range rubber product types & rubber compound, which will be a solution to many industries. We also welcome on your customized rubber product requirement. http://www.industrikaret.com
Motivation Words
Seseorang dengan pola pikir negatif akan melihat masalah di dalam semua kesempatan. Seseorang dengan pola pikir positif akan melihat kesempatan di dalam semua masalah.
|
Customer Support
 4 visitors online
|