Ungkapan Cinta Tanah Air Lewat Rotan

Ruang tamu Ny Akib (45), pengusaha rotan setengah jadi di Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, lebih mirip ruang pamer rotan. Mulai dari kursi tamu, meja, hingga pembatas ruang semuanya berbahan utama rotan.

Nyonya Akib memang memilih tidak memakai kayu atau mebel plastik sebagai pengisi ruang tamunya. Baginya, rotan bukan sekadar mebel, melainkan simbol denyut nadi hidup keluarga, buruh pabrik, serta ratusan petani dan pemetik rotan di kampungnya.

”Dengan menggunakan satu saja kursi rotan berarti membuat asap dapur perajin, petani, dan pemetik rotan bisa mengepul,” katanya.

Semangat yang sama juga ditampakkan sebagian masyarakat di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sentra industri mebel rotan. Sejak tiga tahun lalu, Bupati Cirebon Dedi Supardi menganjurkan rumah warganya, pusat bisnis, dan kantor pelayanan publik menggunakan mebel rotan.

Anjuran Dedi bertujuan memasyarakatkan komitmen yang telanjur ditampakkan oleh semua kantor dan hotel berbintang di Cirebon, yang memang sangat lekat dengan furnitur dan interior ruang berbahan rotan. Lobi hotel secara tak langsung jadi ruang pamer mebel rotan tanpa kehilangan nilai estetika dan kenyamanannya.

Meski kecil, langkah yang dilakukan Ny Akib di Luwu Timur dan masyarakat di Cirebon itu bisa menyambung hidup perajin, petani, dan pemetik rotan di Tanah Air. Tidak seperti mebel bahan sintetis dan stainless yang hanya memberi rezeki bagi buruh pabrik, pedagang, dan pengusaha, mebel rotan mampu menggerakkan perekonomian lima kelompok masyarakat sekaligus: petani/pemetik rotan, pemroses, pedagang, perajin, dan pemilik pabrik rotan. Rotan pula yang selama ini menghidupi masyarakat dari hulu hingga hilir di Indonesia, dari pedalaman gunung dan lembah hingga pesisir pantai.

Kisah rotan sarat ironi. Mentereng di pasar global, tetapi kurang populer di negeri sendiri. Dibandingkan dengan bahan mebel lain, rotan memang perlu perlakuan khusus, ketelatenan, dan cita rasa seni. Namun, kelenturan, penyesuaian suhu, estetika, hingga persoalan lingkungan justru mengangkat derajat mebel itu di pasaran internasional.

Pada abad XIX, rotan bahkan jadi tren—selayaknya fashion— furnitur di luar negeri. Dalam arsip situs Radio Nederland Wereldomroep.nl bertajuk ”100 Tahun Koninklijke Instituut voor de Tropen” disebutkan, tren mebel rotan bermula saat pemerintah kolonial Belanda memamerkannya di Koninklijke Instituut voor de Tropen, Kerajaan Belanda, sebagai produk dari Indonesia.

Dalam laporan penelitian (2007) yang dibuat oleh tim dari Departemen Kehutanan dan International Tropical Timber Organization—sebuah organisasi di bawah naungan PBB—disebutkan, dari 600 jenis rotan di dunia, 350 di antaranya ada di Indonesia. Sebanyak 80 persen rotan yang beredar di dunia juga berasal dari Indonesia. Luas areal hutan rotan di Indonesia diperkirakan mencapai 13,3 juta hektar, dari 143 juta hektar total luas hutan Indonesia.

Ruang tamu Ny Akib (45), pengusaha rotan setengah jadi di Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, lebih mirip ruang pamer rotan. Mulai dari kursi tamu, meja, hingga pembatas ruang semuanya berbahan utama rotan.

Nyonya Akib memang memilih tidak memakai kayu atau mebel plastik sebagai pengisi ruang tamunya. Baginya, rotan bukan sekadar mebel, melainkan simbol denyut nadi hidup keluarga, buruh pabrik, serta ratusan petani dan pemetik rotan di kampungnya.

”Dengan menggunakan satu saja kursi rotan berarti membuat asap dapur perajin, petani, dan pemetik rotan bisa mengepul,” katanya.

Semangat yang sama juga ditampakkan sebagian masyarakat di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sentra industri mebel rotan. Sejak tiga tahun lalu, Bupati Cirebon Dedi Supardi menganjurkan rumah warganya, pusat bisnis, dan kantor pelayanan publik menggunakan mebel rotan.

Anjuran Dedi bertujuan memasyarakatkan komitmen yang telanjur ditampakkan oleh semua kantor dan hotel berbintang di Cirebon, yang memang sangat lekat dengan furnitur dan interior ruang berbahan rotan. Lobi hotel secara tak langsung jadi ruang pamer mebel rotan tanpa kehilangan nilai estetika dan kenyamanannya.

Meski kecil, langkah yang dilakukan Ny Akib di Luwu Timur dan masyarakat di Cirebon itu bisa menyambung hidup perajin, petani, dan pemetik rotan di Tanah Air. Tidak seperti mebel bahan sintetis dan stainless yang hanya memberi rezeki bagi buruh pabrik, pedagang, dan pengusaha, mebel rotan mampu menggerakkan perekonomian lima kelompok masyarakat sekaligus: petani/pemetik rotan, pemroses, pedagang, perajin, dan pemilik pabrik rotan. Rotan pula yang selama ini menghidupi masyarakat dari hulu hingga hilir di Indonesia, dari pedalaman gunung dan lembah hingga pesisir pantai.

Kisah rotan sarat ironi. Mentereng di pasar global, tetapi kurang populer di negeri sendiri. Dibandingkan dengan bahan mebel lain, rotan memang perlu perlakuan khusus, ketelatenan, dan cita rasa seni. Namun, kelenturan, penyesuaian suhu, estetika, hingga persoalan lingkungan justru mengangkat derajat mebel itu di pasaran internasional.

Pada abad XIX, rotan bahkan jadi tren—selayaknya fashion— furnitur di luar negeri. Dalam arsip situs Radio Nederland Wereldomroep.nl bertajuk ”100 Tahun Koninklijke Instituut voor de Tropen” disebutkan, tren mebel rotan bermula saat pemerintah kolonial Belanda memamerkannya di Koninklijke Instituut voor de Tropen, Kerajaan Belanda, sebagai produk dari Indonesia.

Dalam laporan penelitian (2007) yang dibuat oleh tim dari Departemen Kehutanan dan International Tropical Timber Organization—sebuah organisasi di bawah naungan PBB—disebutkan, dari 600 jenis rotan di dunia, 350 di antaranya ada di Indonesia. Sebanyak 80 persen rotan yang beredar di dunia juga berasal dari Indonesia. Luas areal hutan rotan di Indonesia diperkirakan mencapai 13,3 juta hektar, dari 143 juta hektar total luas hutan Indonesia.

Budi Hoesan (40), pengusaha rotan generasi ketiga di Makassar, meyakini bahwa, selain rempah-rempah, hasil bumi yang merangsang minat bangsa-bangsa Eropa memperebutkan Nusantara ini adalah rotan. Kepopuleran rotan dari Indonesia sempat mencapai puncaknya 5-10 tahun silam.

Ramah lingkungan

Saat ini pun rotan diperkirakan tetap dapat tempat di hati warga dunia. Helmut Merkel, Redaktur Pelaksana MobelMakt dalam artikel ”On The Trail of Rattan” memastikan rotan akan tetap laku di pasaran karena ramah lingkungan. Berbeda dengan kayu, proses pengambilan batang rotan tidak mengorbankan pohon induk sehingga hutan tidak rusak dan tak menimbulkan pemanasan global.

Menebang pohon, bagi petani rotan seperti Mans (46) di Pendolo, Poso, Sulawesi Tengah, justru membuat tempat hidup rotan hilang. ”Rotan hidup melingkari pohon inang. Jadi, semakin tinggi pohon, rotan yang melilitnya akan makin panjang,” kata Mans, yang sudah tiga turunan menjadi pencari rotan.

Kearifan lokal membiasakan petani tidak membabat habis rotan saat memetiknya. Pangkal tumbuhan ini selalu disisakan. Harapannya, kelak, 3-5 tahun ke depan rotan akan tumbuh lagi dan bisa mereka petik kembali.

Sayangnya, pamor rotan Indonesia terus meredup. Di pasar dunia, mebel rotan Indonesia pun kalah bersaing harga dengan China. Sudah saatnya kini rotan dipakai di dalam negeri.

Seperti batik, rotan yang dikenal sebagai kekayaan hayati endemik Indonesia seharusnya tidak hanya terpakai di rumah Ny Akib, yang jauh terpencil di dekat hutan. Seyogianya juga terpajang sebagai furnitur, dekorasi, interior di setiap rumah di negeri ini atau, setidaknya, di setiap kantor pemerintah, hotel, dan bandara yang menjadi gerbang masuk Indonesia.

Menggunakan satu set mebel dan kerajinan rotan dalam satu rumah tangga saja berarti telah mengayun sejuta langkah besar bagi petani, pemetik, perajin rotan, sekaligus mengampanyekan pelestarian lingkungan. Lawan rotan sintetis yang berbahan plastik!

Ramah lingkungan

Saat ini pun rotan diperkirakan tetap dapat tempat di hati warga dunia. Helmut Merkel, Redaktur Pelaksana MobelMakt dalam artikel ”On The Trail of Rattan” memastikan rotan akan tetap laku di pasaran karena ramah lingkungan. Berbeda dengan kayu, proses pengambilan batang rotan tidak mengorbankan pohon induk sehingga hutan tidak rusak dan tak menimbulkan pemanasan global.

Menebang pohon, bagi petani rotan seperti Mans (46) di Pendolo, Poso, Sulawesi Tengah, justru membuat tempat hidup rotan hilang. ”Rotan hidup melingkari pohon inang. Jadi, semakin tinggi pohon, rotan yang melilitnya akan makin panjang,” kata Mans, yang sudah tiga turunan menjadi pencari rotan.

Kearifan lokal membiasakan petani tidak membabat habis rotan saat memetiknya. Pangkal tumbuhan ini selalu disisakan. Harapannya, kelak, 3-5 tahun ke depan rotan akan tumbuh lagi dan bisa mereka petik kembali.

Sayangnya, pamor rotan Indonesia terus meredup. Di pasar dunia, mebel rotan Indonesia pun kalah bersaing harga dengan China. Sudah saatnya kini rotan dipakai di dalam negeri.

Seperti batik, rotan yang dikenal sebagai kekayaan hayati endemik Indonesia seharusnya tidak hanya terpakai di rumah Ny Akib, yang jauh terpencil di dekat hutan. Seyogianya juga terpajang sebagai furnitur, dekorasi, interior di setiap rumah di negeri ini atau, setidaknya, di setiap kantor pemerintah, hotel, dan bandara yang menjadi gerbang masuk Indonesia.

Menggunakan satu set mebel dan kerajinan rotan dalam satu rumah tangga saja berarti telah mengayun sejuta langkah besar bagi petani, pemetik, perajin rotan, sekaligus mengampanyekan pelestarian lingkungan. Lawan rotan sintetis yang berbahan plastik!

Posted on May 26, 2010 | 8 comments

Komentar

cheap rolex replica watches (October 20, 2010 00:30)
untuk memasarkan furniture rotan di wilayah kalimantan tengah,karena dengan produksi
 
Yuyun (May 26, 2010 18:55)
Ungkapan Cinta Tanah Leluhur Menteri Perdagangan Mari Pangestu dengan dibolehkan ekspor bahan baku rotan....
 
eko sugiarto (May 26, 2010 19:24)
salam sukses pak ton,

Kami juga menggandeng pengusaha rotan di tempat kami untuk memasarkan furniture rotan di wilayah kalimantan tengah,karena dengan produksi di kalimantan di harapkan adanya nilai lebih juga bagi petani rotan

Eko sugiarto
Pangkalanbun Kalimantan tengah
Alumni PPEI Banjarmasin
 
Riferson (June 12, 2010 02:41)
goog coz ramah lingkungan,,

http://rifersons06.student.ipb.ac.id
 
Koje (June 12, 2010 02:43)
good,,
 
Ko (June 23, 2010 04:05)
”Dengan menggunakan satu saja kursi rotan berarti membuat asap dapur perajin, petani, dan pemetik rotan mengepul."

Suka banget dengan pernyataan ini. Budayakan ROTAN...!
http://ekos06.student.ipb.ac.id
 
Aftrinal Lubis (July 22, 2010 01:40)
Setuju.Memelihara Rotan, berarti memelihara Hutan.
 
H.SOLIKHIN (October 31, 2011 08:54)
Saya setuju dengan ulasan diatas , tetapi saya ingin menambahkan , kalau bisnis rotan dalam negri masalahnya satu , ketika tahun 1970 s/d 1990 , para pejabat kita banyak memakai produk rotan , para desainer kita getol mempromosikan ke pejabat , walhasil
sering muncul di TV produk rotan , akibatnya toko saya di kemang punya langganan banyak pejabat mentri , sekarang para pejabat kita lebih suka belanja keluar negri,desainer kita juga asyik dengan memanjakan produk luar , jadi ujung ujungnya , orang dibawah alergi rotan, desainer juga tidak punya kebanggaan mendesain rotan lagi.
rupanya kita sedang kejangkitan produk import dan yang dibawah jadi latah.

Saya tidak percaya produk kita kalah bersaing dengan produk rotan dari CHINA, saya baru pulang dari Shanghai untuk pameran mebel rotan disana , kalau saya pelajari kreatifitas ,inovasi produk ,harga , saya fikir tidak ada masalah ,yang ada kita kalah fasilitas misalnya , bunga bank , biaya ocean freight,bantuan promosi dan kebijakan pemerintah mendorong eksportnya besar dan sungguh -sungguh,
Dulu waktu kran eksport bahan baku ditutup th 1985 CHINA Juga punya rotan banyak , yang debeli secara illegal, tetapi kebijakan pemerintah kita sungguh -sungguh ingin memberi makan rakyatnya , maka industri mebel rotan tumbuh subur.
jadi kebijakan menutup kran eksport bahan baku sudah berada di jalan yang benar, tinggal diikuti kebijakan finasial seperti tahun 1980 an , dan penataan sytem yang di diskusikan dengan para pelaku industri secara kontinyu dan berkesinambungan.
 

Tulis Komentar

Nama Anda :


Email :
(wajib diisi, tapi tidak dipublikasi)

Website :
(jika ada)

Komentar Anda :


Kode Input :
Masukkan Kode Input :

Directory Listing

acls online renewal (12/20/2011)

ACLScertification.com is the leading online acls certification and recertification provider in the world. Simply call 1-800-448-2078 to register today for your acls renewal or certification.
http://www.aclscertification.com

A QA Furniture/QA Furniture Com (12/08/2011)

About Us/A QA Furniture/www.qafurniture.com. Welcome to our Website: www.qafurniture.com. We are Quality Furniture Manufacturer and Exporter since 1990 ...
http://site.qafurniture.com

Airport limo Toronto (12/08/2011)

Toronto Airport transportation is one of the best Airport Taxi Toronto service. Airport limo Toronto is first class transportation service from Toronto & Pearson.
http://www.thetorontolimo.com/

Dubai tour Package (12/08/2011)

Dubai tour Package - Discover the beauty of Dubai with Dubai tour package with lot of adventure
http://www.dubaitourismpackages.co.in

liu (12/08/2011)

Hitop
http://www.0769ai.com

Motivation Words

Ada dua penyebab kegagalan, yaitu berpikir tanpa bertindak dan bertindak tanpa berpikir.

Sponsored Sites



Forum Indonesia Menggugat
Customer Support
Customer Support EII


2 visitors online

  eXTReMe Tracker We accept Paypal BCA